Minggu, 17 Maret 2019

FENOMENA PEMILU 2019 DALAM MEMILIH WAKIL RAKYATNYA DI OKU TIMUR


FENOMENA PEMILU 2019 DALAM MEMILIH WAKIL RAKYATNYA DI OKU TIMUR

Pagi itu, ketika matahari mulai bersinar,, dan aktivitas masyarakat mulai berjalan...
Setumpuk pekerjaan menunggu kuselesaikan padahal jam sudah menunjukkan 06.30 WIB. hemm... tulisannya susah kubaca.. pena yang digunakan begitu tebal sehingga tulisan di kertas yang bolak-balik itu tembus dan membuatku susah membaca.. apa lagi dengan kondisi mataku yang kata pak dokter sebelah kiri nya silindris.
Ditengah asyiknya jemari tangan ini mengetik.. yah aku hanyalah seorang pekerja seni.. seni mengetik.. hehehhe...
Di depan rumahku, dipinggir jalan, terlihat dua orang bapak-bapak setengah baya berbincang...

"Piye kang, kabare? suwe ra ketok..." (Bagaimana kabarnya Mas? Sudah lama nggak ketemu...)
"Alhamdulillah apek,, baru bali dek wingi sore. Awakmu piye?" (Alhamdulillah baik, baru pulang kemarin sore")
"Yo koyo ngene kang. Panggah wae, yo dilakoni wae sak enenge,, sak dremo nrimo pareng eng pandum, seng penteng syukur" (Ya beginilah Kang, sama saja. Ya dikerjakan saja seadanya, Hanya menerima apa yang diberi. Yang penting banyak bersyukur).
"Yo kudune ngunu, syukur jo nganti lali" (Ya harus begitu, syukur jangan lupa)
"Piye kabare konco-konco kene? podo sopo pilihane calon DPR neng coblosan mengko?" (Bagaimana kabarnya kawan-kawan sini? Siapa pilihannya calon DPR pada coblosan nanti?)

"Weh nek kui, rak mesti Kang, wong kene ki wes podo pinter lho... heheeh.. sopo seng ngekei disek yo kui seng di pileh. Misale si calon A, mbantu ngecor dalan, yo di pileh,, si B, mbantu mbangun masjid pirang sak semen ngunu yo di pileh.. nek gur sekedar janji wes rak sah ngarep..
kene wes podo pinter masyarakate.... nek gur janji-janji tok yo nek dadi jelas laline."
(Kalau itu, tidak pasti Kang, orang sini sudah pada pinter lho... Siapa yang memberi dulu itu yang dipilih. Misanya si calon A, membantu mengecor jala, ya di pilih, si B, membantu bangun masjid berapa sak semen begitu ya di pilh. Kalau hanya sekedar janj, jangan berharap dipilih. Disini sudah pinter masyarakatnya. Kalau hanya  janji-janji ya kalau jadi pasti lupa.)


Dari percakapan yang saya dengar, terasa begitu miris dan begitu menyedihkan.... kenapa?
1.     Benarkah masyarakat atau pemilih dalam pemilu sudah pintar dalam menentukan pilihan mereka?
Menurut saya, masa ini adalah masa terkelam. Disaat semua orang menginginkan kebebasa berpendapat, berusaha untuk lebih berdemokrasi yang baik.. kata orang masa pencerdasan demokrasi dan politik, namun mereka ternyata malah keblinger, atau salah jalan.
Bagaimana tidak?
Memilih orang yang sudah membantu mreka dalam beberapa bentuk, namun mereka tidak pernah menyadari bahwa secara tidak langsung akan membantu oknum-oknum calon wakil rakyat tersebut untuk melakukan tindakan-tindakan korupsi.
Kenapa Bisa?
Calon-calon istilahnya mengeluarkan modal terlebih dahulu. Tentu nantinya mengharapkan keuntungan yang tidak sedikit, sekaya apa sih orang yang ingin menghamburkan uang untuk kepentingan orang lain di jaman sekarang ini.. setulus apa sih orang yang dijaman ini untuk membantu kesusahan orang lain? Apakah masih ada di jaman sekarang orang yang ingin berdagang dengan Tuhan secara tulus.
Hitungan secara kasar, berapa gaji seorang anggota dewan sebulan. Berapa penghasilannya dalam 5 tahun? Apakah cukup untuk mengembalikan modal pencalonan?

2.     Benarkah para calon-calon wakil rakyat itu benar-benar tulus untuk mengabdi pada masyarakat?
Sebuah kebohongan besar saya rasa. Mungkin ada tapi berapa orang ? dari sekian banyak calon-calon itu berapa persentasinya? huuuuhuhu...

3.     Bagi yang mengaku calon-calon wakil-wakil suara rakyat?
Beranikah kalian menghadapai resiko itu? diatas masyarakat, di mata keluarga? di hadapan Tuhan?
Ingatlah bahwa kalian akan dipertanyakan tentang apa yang telah kalian lakukan di dunia. Seluruh tubuh akan menjadi saksi tanpa kalian bisa kendalikan. Mereka akan mengaku secara jujur dan kompleks, tanpa ada kebohongan. (Kalau teringat film Pangeran Es yang di TV, mungkin seperti dihadapan Cermin Kejujuran punyanya Raja mimpi dari Negeri Mimpi ya... tidak ada yang bisa boong,, wakkakaka Kalau saja ada beneran di dunia nyata.. enak tuh,, bisa digunakan untuk pilhan dalam pemilu.. (mode menghayal nih..))

4.     Terus bagaimana dengan nasib mereka calon-calon anggota wakil rakyat, yang punya potensi, dan niat begitu besar demi kemalahan umat, yang nggak punya modal?
Nol besar dalam proses pemungutan dan penghitungan suara. Padahal mereka akan menggunakan semua bentuk fasilitas negara untuk kepentingan rakyat. Mereka menjanjikan akan menggunakan dana aspirasi guna kepentingan masyarakat secara cerda, efisien dan bijaksana.


Yang perlu digaris bawahi,,,
Apakah benar masyarakat kita sudah cerdas dalam memilih? Kemana kesaktian dari 1 suara kita?
Benarkah calon wakil rakyat pilihanmu adalah benar-benar orang yang bisa memgang amanahmu?

Jangan pernah mengatakan siapapun yang jadi kehidupanmu akan tetap seperti itu,,, yakinlah satu suaramu adalah penentu masa depan bangsa ini 5 tahun kedepan. Yainlah satu suaramu adalah pengabdian yang dapat engkau berikan untuk  negaramu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar