FENOMENA
PEMILU 2019 DALAM MEMILIH WAKIL RAKYATNYA DI OKU TIMUR
Pagi itu, ketika
matahari mulai bersinar,, dan aktivitas masyarakat mulai berjalan...
Setumpuk pekerjaan
menunggu kuselesaikan padahal jam sudah menunjukkan 06.30 WIB. hemm...
tulisannya susah kubaca.. pena yang digunakan begitu tebal sehingga tulisan di
kertas yang bolak-balik itu tembus dan membuatku susah membaca.. apa lagi
dengan kondisi mataku yang kata pak dokter sebelah kiri nya silindris.
Ditengah asyiknya
jemari tangan ini mengetik.. yah aku hanyalah seorang pekerja seni.. seni
mengetik.. hehehhe...
Di depan rumahku,
dipinggir jalan, terlihat dua orang bapak-bapak setengah baya berbincang...
"Piye kang, kabare?
suwe ra ketok..." (Bagaimana kabarnya Mas? Sudah lama nggak ketemu...)
"Alhamdulillah
apek,, baru bali dek wingi sore. Awakmu piye?" (Alhamdulillah baik, baru
pulang kemarin sore")
"Yo koyo ngene
kang. Panggah wae, yo dilakoni wae sak enenge,, sak dremo nrimo pareng eng pandum,
seng penteng syukur" (Ya beginilah Kang, sama saja. Ya dikerjakan saja
seadanya, Hanya menerima apa yang diberi. Yang penting banyak bersyukur).
"Yo
kudune ngunu, syukur jo nganti lali" (Ya harus begitu, syukur jangan lupa)
"Piye
kabare konco-konco kene? podo sopo pilihane calon DPR neng coblosan
mengko?" (Bagaimana kabarnya kawan-kawan sini? Siapa pilihannya calon DPR
pada coblosan nanti?)
"Weh
nek kui, rak mesti Kang, wong kene ki wes podo pinter lho... heheeh.. sopo seng
ngekei disek yo kui seng di pileh. Misale si calon A, mbantu ngecor dalan, yo
di pileh,, si B, mbantu mbangun masjid pirang sak semen ngunu yo di pileh.. nek
gur sekedar janji wes rak sah ngarep..
kene
wes podo pinter masyarakate.... nek gur janji-janji tok yo nek dadi jelas
laline."
(Kalau
itu, tidak pasti Kang, orang sini sudah pada pinter lho... Siapa yang memberi
dulu itu yang dipilih. Misanya si calon A, membantu mengecor jala, ya di pilih,
si B, membantu bangun masjid berapa sak semen begitu ya di pilh. Kalau hanya
sekedar janj, jangan berharap dipilih. Disini sudah pinter masyarakatnya. Kalau
hanya janji-janji ya kalau jadi pasti
lupa.)
Dari
percakapan yang saya dengar, terasa begitu miris dan begitu menyedihkan....
kenapa?
1. Benarkah masyarakat atau pemilih
dalam pemilu sudah pintar dalam menentukan pilihan mereka?
Menurut saya, masa ini adalah
masa terkelam. Disaat semua orang menginginkan kebebasa berpendapat, berusaha
untuk lebih berdemokrasi yang baik.. kata orang masa pencerdasan demokrasi dan
politik, namun mereka ternyata malah keblinger, atau salah jalan.
Bagaimana
tidak?
Memilih orang yang sudah membantu
mreka dalam beberapa bentuk, namun mereka tidak pernah menyadari bahwa secara
tidak langsung akan membantu oknum-oknum calon wakil rakyat tersebut untuk melakukan
tindakan-tindakan korupsi.
Kenapa
Bisa?
Calon-calon istilahnya
mengeluarkan modal terlebih dahulu. Tentu nantinya mengharapkan keuntungan yang
tidak sedikit, sekaya apa sih orang yang ingin menghamburkan uang untuk
kepentingan orang lain di jaman sekarang ini.. setulus apa sih orang yang
dijaman ini untuk membantu kesusahan orang lain? Apakah masih ada di jaman
sekarang orang yang ingin berdagang dengan Tuhan secara tulus.
Hitungan secara kasar, berapa
gaji seorang anggota dewan sebulan. Berapa penghasilannya dalam 5 tahun? Apakah
cukup untuk mengembalikan modal pencalonan?
2. Benarkah para calon-calon wakil
rakyat itu benar-benar tulus untuk mengabdi pada masyarakat?
Sebuah kebohongan besar saya
rasa. Mungkin ada tapi berapa orang ? dari sekian banyak calon-calon itu berapa
persentasinya? huuuuhuhu...
3.
Bagi yang mengaku calon-calon wakil-wakil
suara rakyat?
Beranikah kalian menghadapai
resiko itu? diatas masyarakat, di mata keluarga? di hadapan Tuhan?
Ingatlah bahwa kalian akan
dipertanyakan tentang apa yang telah kalian lakukan di dunia. Seluruh tubuh
akan menjadi saksi tanpa kalian bisa kendalikan. Mereka akan mengaku secara
jujur dan kompleks, tanpa ada kebohongan. (Kalau teringat film Pangeran Es yang
di TV, mungkin seperti dihadapan Cermin Kejujuran punyanya Raja mimpi dari
Negeri Mimpi ya... tidak ada yang bisa boong,, wakkakaka Kalau saja ada beneran
di dunia nyata.. enak tuh,, bisa digunakan untuk pilhan dalam pemilu.. (mode menghayal nih..))
4.
Terus bagaimana dengan nasib mereka calon-calon
anggota wakil rakyat, yang punya potensi, dan niat begitu besar demi kemalahan
umat, yang nggak punya modal?
Nol besar dalam proses pemungutan
dan penghitungan suara. Padahal mereka akan menggunakan semua bentuk fasilitas
negara untuk kepentingan rakyat. Mereka menjanjikan akan menggunakan dana
aspirasi guna kepentingan masyarakat secara cerda, efisien dan bijaksana.
Yang perlu digaris
bawahi,,,
Apakah benar
masyarakat kita sudah cerdas dalam memilih? Kemana kesaktian dari 1 suara kita?
Benarkah calon wakil
rakyat pilihanmu adalah benar-benar orang yang bisa memgang amanahmu?
Jangan pernah
mengatakan siapapun yang jadi kehidupanmu akan tetap seperti itu,,, yakinlah
satu suaramu adalah penentu masa depan bangsa ini 5 tahun kedepan. Yainlah satu
suaramu adalah pengabdian yang dapat engkau berikan untuk negaramu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar